“apakah musibah atau bencana merupakan fenomena alam atau azab…!”

Musibah, Fenomena Alam Atau Adzab?  

Negeri ini seolah tak pernah berhenti dirundung duka. Bencana alam silih berganti menimpa satu persatu daerah negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam ini. Menyisakan kerugian yang tidak sedikit, harta dan nyawa.

ANTARA DOSA DAN BENCANA
Allah berfirman, artinya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rûm: 41).

“Dan Allah telah membuat sauatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (QS. An-Nahl: 112).

Rasulullah  pernah bersabda, “Wahai kaum Muhajirin! Sesungguhnya ada lima perkara  yang aku berlindung kepada Allah agar kalian tidak menemuinya. (1) Tidaklah muncul perbuatan keji (zina) pada suatu kaum hingga mereka melakukannya secara terang-terangan, kecuali Allah akan menimpakan kepada mereka wabah dan pelbagai penyakit (thâ’ûn) yang belum pernah menimpa kepada orang-orang sebelum mereka. (2) Tidaklah suatu kaum mengurangi takaran dan timbangannya, kecuali niscaya mereka akan ditimpa dengan tandusnya tanah, paceklik sepanjang tahun, serta berkuasanya penguasa-penguasa yang zhalim. (3) Dan tidaklah suatu kaum enggan mengeluarkan zakat hartanya, kecuali Allah akan menimpakan kepada mereka bencana dengan tidak diturunkannya hujan dari atas langit kepada mereka. Dan kalaulah bukan karena binatang ternak, niscaya Allah akan menahan turunnya hujan selama-lamanya. (4) Dan tidaklah suatu kaum mengingkari janji antara mereka dengan Allah dan Rasul-Nya, melainkan Allah akan mendatangkan musuh-musuh yang bukan dari golongan mereka, lalu merampas sebagian harta yang ada di tangan mereka. (5) Dan selama pemimpin-pemimpin mereka tidak berhukum dengan Kitabullah dan tidak memilih yang terbaik dari apa yang Allah turunkan kecuali Allah turunkan kepada mereka kesengsaraan (perpecahan) di antara mereka.” (HR. Ibnu Majah, no. 4019, dihasankan oleh Syekh Al Albani).

Kebanyakan orang memandang pelbagai macam musibah yang menimpa manusia hanya dengan logika berpikir yang bersifat rasional, terlepas dari tuntutan Wahyu Ilahi. Sehingga solusi yang diberikan tidak mengarah pada penghilangan sebab-sebab utama yang bersifat transendental, yaitu kemaksiatan umat manusia kepada Allah  Sang Pencipta Jagat Raya, yang di tangan-Nyalah seluruh kebaikan dan kepada-Nyalah dikembalikan segala urusan.

ANTARA KETAATAN DAN BERKAH ALAM
Apabila penduduk suatu negeri taat kepada Allah  , maka keberkahan akan melimpah kepada mereka. Misalnya pada jaman Rasulullah , alam begitu bersahabat kepada Nabi  dan para sahabat. Sehingga gunung-gunung sangat mencintai mereka. Rasulullah r bersabda ketika melihat bukit Uhud seraya menunjuk padanya,

“Bukit ini mencintai kami dan kami pun mencintainya. ”  (HR. Bukhari dan Muslim)
Bahkan makanan yang dinikmati oleh para sahabat ikut bertasbih sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Mas’ud t, “Kami pernah mendengarkan tasbih dari makanan. yang sedang dimakan”  (HR. Bukhari)

Dalam riwayat Abu Dzar Radhiyallahu ‘Anhu juga disebutkan bahwa para sahabat mendengarkan tasbih batu-batu kerikil di tangan Nabi ,
Demikian pula dengan batang kayu yang pernah dijadikan mimbar oleh Rasulullah  menangis ketika Rasulullah r meninggalkannya.

Demikianlah beberapa contoh respon yang diberikan oleh alam kepada orang-orang yang taat kepada Allah . Sangat berbeda dengan perlakuan yang diberikan kepada orang-orang yang durhaka. Allah  berfirman, artinya: “Maka langit dan bumi tidak menangisi (kepergian) mereka dan mereka pun tidak diberi tangguh.” (QS. Ad-Dukhân: 29).

Namun sebaliknya kata Ibnu Abbas   ÑÖí Çááå ÚäåãÇ bahwa orang mu’min kepergiannya ditangisi oleh langit dan bumi. Ditangisi oleh langit, karena orang yang melakukan amal shaleh, maka amalannya akan naik ke langit dan akan diterima oleh langit. Sebagaimana   bumi pun menangis ketika ditinggalkan oleh orang-orang yang shaleh karena tidak dipijak lagi untuk melakukan ketaatan. (lihat Tafsir Ibnu Katsir)

Pada zaman Rasulullah , kaum Muslimin memberikan suasana bersahabat dengan alam, maka alam pun memberikan sikap yang sama, memberikan rahmat kepada Rasulullah r dan kepada para sahabatnya. Sebaliknya, jika penduduk suatu negeri tidak taat kepada Allah, maka alam ini bisa menjadi tentara-tentara Allah untuk membinasakan penduduknya. Sebagaimana pada zaman Fir’aun, kutu-kutu, katak-katak, bahkan hewan-hewan lemah pun bisa menjadi sebab untuk hancurnya pengikut-pengikut Fir’aun.

JANGAN MERASA AMAN!

Allah  berfirman, Artinya, “Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu dhuha ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari adzab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari adzab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al A’râf: 97-99).

Inilah peringatan bagi mereka yang masih terus bergelimang dengan kemaksiatan, yang tidak lagi memiliki rasa malu bahkan bangga dengan dosa-dosanya, yang membusungkan dada menantang datangnya adzab Allah, bahwasanya tak seorang pun di antara kita yang patut merasa aman dari adzab Allah yang teramat pedih.

PELAJARAN DARI UMAT-UMAT TERDAHULU

Karena maksiatlah, Allah menumpahkan air dari langit, memuntahkannya ke bumi. Hingga mereka, umat Nabi Nuh yang kafir dan durhaka itu ditenggelamkan dan binasa (lihat QS. Al A’râf: 63-64).

Karena maksiatlah, Allah menghancurkan kaum Nabi Hud Alaihissalam. Ditumpas habis tanpa sisa (lihat QS. Asy-Syu’arâ’: 139).

Kalau bukan karena maksiat, kaum Tsamud tidak akan menelan mentah-mentah adzab yang sangat pedih (ihat QS. Al A’râf: 77-78).

Karena maksiat pulalah, kaum Nabi Luth Alaihissalam beserta tujuh kotanya hancur berkeping-keping. Kota mereka diangkat setinggi-tingginya ke atas langit dengan cepat, lantas dibenturkan ke bumi dalam keadaan yang di atas ke bawah (dibalik) lalu dihujani bebatuan dari sijjîl (lihat QS. Hud: 82-83).

Negeri Fir’aun dilanda topan kencang, hama belalang, tersebarnya kutu, merajalelanya kodok dan menyebarnya darah; pun karena maksiat. Lalu karena mereka tidak merubah sikapnya Allah U menenggelamkan mereka di lautan (lihat QS. Al A’râf: 133-136).

Bangsa Yahudi bertubi-tubi mendapatkan laknat dan adzab. Mereka menyakiti, bahkan membunuh beberapa nabi mereka, maka pantas sekali kalau Allah merubah mereka menjadi binatang yang paling keji di dunia, mereka dirubah menjadi kera dan babi, karena tabiat mereka memang seperti kera dan babi.

Kaum-kaum terdahulu Allah hancurkan dan luluhlantakkan disebabkan oleh satu dua jenis kemungkaran yang dikepalai oleh dosa kesyirikan. Sekarang, bagaimana dengan kita? Apa yang kita saksikan dan alami sekarang ini di tempat kita, di lingkungan kita, di kota kita, dan bahkan di seantero negeri kita? Kesyirikan yang merupakan biang malapetaka dunia dan akhirat kini seolah telah menjadi kebutuhan. Berapa banyak kita dapati media massa yang menjajakan kesyirikan, ulama-ulama sesat menyeru umat kepada perbuatan syirik dengan dibungkus sedemikian rupa untuk menyesatkan umat. Demikian pula dengan  bid’ah dan maksiat, terjadi di mana-mana.

BENCANA, UNTUK SEMUA
Muncul pertanyaan, “Mengapa harus daerah ini, atau kota ini, atau negara ini yang ditimpa musibah, padahal masih banyak daerah-daerah lain yang lebih pantas untuk diadzab oleh Allah? Bukankah di sana ada orang-orang shaleh dan anak-anak kecil yang tidak berdosa?
Jawabannya: Allah Shubhaanahu Wa Ta’ala telah mengingatkan bahwa adzab-Nya tidak khusus menimpa orang-orang zhalim di antara kita. Allah Shubhaanahu Wa Ta’ala berfirman, artinya: “Dan peliharalah dirimu dari siksa yang tidak khusus menimpa orang-orang zhalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksa-Nya.” (QS. Al Anfâl: 25).

Ummu Salamah—radhiyallahu ‘anha—menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Salllam bersabda, “Jika timbul maksiat pada umatku, maka Allah akan menyebarkan adzab kepada mereka. Aku berkata, “Wahai Rasulullah! Apakah tidak ada waktu itu orang-orang shaleh?” Beliau menjawab, “Ada.” Aku bertanya lagi, “Apa yang Allah akan perbuat kepada mereka?” Beliau menjawab, “Allah akan menimpakan kepada mereka adzab sebagaimana ditimpakan kepada orang-orang yang melakukan maksiat, kemudian mereka akan mendapatkan ampunan dan keridhaan dari Rabb-nya.” (HR. Ahmad, Al Haitsami mengatakan bahwa semua perawi hadits ini terpercaya).

KE MANA MENGADU?
Orang-orang musyrik pada jaman dulu yang terkenal dengan pembangkangan mereka kepada Allah, ketika ditimpa suatu musibah, maka mereka memurnikan ketaatan mereka kepada Allah . Meskipun ketika musibah tersebut berlalu, mereka kembali ingkar dan kembali kepada kesyirikan mereka. Sebagaimana digambarkan oleh Allah Shubhaanahu Wa Ta’ala, artinya: “Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) menyekutukan (Allah).” (QS. Al ‘Ankabût: 65).

Itu kondisi orang-orang jaihiliyah tempo dulu. Bandingkan dengan keadaan manusia “modern” sekarang ini, ketika mereka merasa akan ditimpa suatu bencana, maka bukannya mengikhlaskan ketaatan kepada Allah Shubhaanahu Wa Ta’ala, justeru mereka semakin tenggelam dalam kesyirikan dengan meminta bantuan kepada makhluk-makhluk halus, penunggu-penunggu tempat keramat dan benda-benda lain yang disakralkan. Sejatinya bertobat dan meminta perlindungan kepada Allah Shubhaanahu Wa Ta’ala, malah meminta kepada makhluk yang untuk menolong diri mereka sendiri pun, mereka tidak mampu. Wallâhul Musta’ân wa ilaihil musytakab (Al Fikrah)

Tentang Aldi Adam

"Aku adalah aku, tak mungkin jadi dia atau mereka. dengan segala kekurangan dan keterbatasanku kuingin menjadi diriku sendiri..."
Pos ini dipublikasikan di artikel islami. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s